KATA
PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
tuntunan dan penyertaanNya, kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan Makalah
manajemen berbasis sekolah yang membahas tentang tujuh kebudayaan dari daerah
Niki-niki serta dengan model manajemen
berbasis sekolah terhadap partisipasi masyarakat dan Kriteria MBS.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata
Kuliah’Manajemen Berbasis Sekolah’. Makalah
ini jauh dari kesempurnaan oleh karena itu penulis sangat mengharapkan
kritik dan saran dari Dosen Mata Kuliah Manajemen Berbasis Sekolah, sehingga
kedepanya dalam penulisan makalah berikutnya penulis dapat membuat makalah yang
lebih baik.
Kupang,12
Oktober 2016
Penulis
ii
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL …………………..………………………………………………….………i
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………ii
DAFTAR ISI ………….…………………………………………………………………………iii
BAB
1 PENDAHULUAN………………………………………………………………………..1
A. Latar Belakang …………………………………………………………….……….…1
B. Rumusan Masalah ………………………………………………………….………....1
C. Tujuan
………………………………………………………………………...………..1
BAB
II PEMBAHASAN ………………………………………………………………………..2
A.
Tujuh Unsur Kebudayaan dari Niki-niki…………………………………...………….3
a. Bahasa…………………………………………………………………...…………3
b. Sistem
Pengetahuan………………………………………………………………..3
c. Sistem Teknologi dan
Peralatan…………………………………………………....3
d. Sistem Kesenian
…………………………………………………………………..4
e. Sistem Mata Pencarian Hidup …………………………………………………….4
g. Sistem Kekerabatan dan Organisasi Kemasyarakatan………………………......5
B. Model Manajemen Berbasis Sekolah
Terhadap Partisipasi Masyarakat…………..6
BAB
III PENUTUP …………………………………………………………………………...…8
A. Kesimpulan …………………………………………………………………………..8
B. Saran
………………………………………………………………………………….9
DAFTAR
PUSTAKA ………………………………………………………………………….10
iii
BAB
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap daerah mempunyai budayanya
masing-masing. “kebudayaan” berasal dari kata sansekerta buddhayah bentuk
jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal, sehingga menurutnya
kebudayaan dapat diartikan sebagai hal- hal yang bersangkutan dengan budi dan
akal, ada juga yang berpendapat sebagai suatu perkembangan dari majemuk budi-
daya yang artinya daya dari budi atau kekuatan dari akal. Setiap kebudayaaan
memiliki unsurnya masing-masing. Ada beberapa unsur budaya diantaranya sistem
religi,sistim pengetahuan,bahasa,sistem kesenian, sistem kekerabatan dan
organisasi kemasyarakat,sistim mata pencarian hidup dan sistim teknologi dan
peralatan. Tujuh unsur kebudayaan ini dikemukakan oleh C.Kluckhon dalam bukunya
yang berjudul Universal Categories of Culture. Tujuh kebudayaan ini akan
diuraikan dalam kebudayaan Niki-niki. Niki-niki atau desa Niki-niki merupakan
semua desa yang terletak di Kecamatan Amanuban Tengah,Timor Tengah Selatan
(TTS). Niki-niki didirikan oleh raja Don Louis III (1808-1824), yang merupakan
raja Amanuban. Selain sebagai pendiri beliu, juga menetapkan nama Nope sebagai
marga Dinasti Nope. Desa Niki-niki berasal dari kata Nik-nik yang berarti
menjilat-jilat dan melihat kebelakang. Di Niki-niki terdapat sebuah warisan yang patuh dijaga dan
dilestarikan yaitu sebuah kerajaan Amanuban. Yang sekarang dijaga oleh para
keturunan dari raja Nope.
Kesadaranakan pentingnya pendidikan yang dapat
memberikan harapan dan kemungkinan yang lebih baik dimasa mendatang,telah
mendorong berbagai upaya dan perhatian seluruh lapisan masyarakat terhadap
setiap gerak langkah dan perkembangan dunia pendidikan. Untuk itu manajemen
berbasis sekolah (MBS), yang merupakan suatu bentuk atau pengeolahan sekolah
dalam rangka desentralisasi.
Manajemen berbasis sekolah (MBS),memberikan tempat
bagi masyarakat dalam berpartisipasi dalam perkembangan dan kemanjuan sekolah.
Di Indonesia sendiri,model manajemen berbasis sekolah atau MBS yang diterapkan
yaitu pendidikan tidak menjadi wewenang dan tanggung jawab sekolah,tetapi
terdapat pembagian kewenangan antara pusat propinsi,kabupaten/kota,kecamatan
dan sekolah dalam mengelola pendidikan. Artinya Model MBS di Negara kita tidak
diartikan sebagai otonomi penuh sekolah terdapat visi dan misi yang perlu
dipertahankannya untuk menjadi persatuan dan kesatuan stadar mutu.
Tujuh unsur kebudayaan yang ada di desa
Niki-niki berserta model Manajemen berbasis sekolah terhadap partisipasi
masyarakat dan kriteria Manajemen berbasis sekolah (MBS),akan dibahas lebih
terpenci dan lengkap dalam makalah ini.
B. Rumusan
Masalah
Adapun
rumusan masalah dari makalah ini yaitu:
1.
Apa saja tujuh unsur kebudayaan yang ada
di kota Niki-niki?
2.
Apa saja model manajemen berbasis
sekolah terhadap partisipasi masyarakat dan criteria manajemen berbasis
sekolah?
C. Tujuan
Dari
rumusan masalah diatas,maka tujuannya adalah :
1.
Mengetahui tujuh unsure kebudayaan dari
kota Niki-niki.
2.
Mengetahui model manajemen berbasis
sekolah terhadap partisipasi masyarakat dan Kriteria manajemen berbasis sekolah
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Tujuh Unsur Kebudayaan dari Niki-Niki
Dalam latar belakang sudah dibahas tentang desa
Niki-niki atau asal mula desa Niki-niki. Budaya atau kebudayaan yang ada di
Niki-niki belum dibahas pada bab sebelumnya. Karena itu, pada bab ini akan
dibahas menyenai tujuh unsur kebudayaan
yang ada di Niki-niki. Tujuh unsur kebudayaan itu sebagai berikut :
a.
Bahasa
Bahasa merupakan sarana bagi manusia untuk
memenuhi kebutuhan sosialnya untuk berinteraksi atau berhubungan dengan
sesamanya. Dalam ilmu antropologi, studi mengenai bahasa disebut dengan istilah
antropologi linguistik. Masayarakat niki-niki sering kali menggunakan bahasa
daerah(uab meto) sebagai bahasa percakapan atau alat komunikasi sehari-hari.
Apalagi dalam urusan tertentu misalnya, yang ada hubungannya dengan adat
istiadat.
b.
Sistem Pengetahuan
Sistem
pengetahuan sangat luas batasannya karena mencakup pengetahuan manusia tentang
berbagai unsur yang digunakan dalam kehidupannya. Sistem pengetahuan untuk
masyarakat niki-niki yaitu dengan bersekolah,lingkungan sekitar dan Tv.
c.
Sistem Teknologi dan Peralatan
Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan
hidupnya sehingga mereka akan selalu membutukan peralatan dan teknologi. Untuk
peralatan yang sering digunakan oleh masyarakat niki-niki dalam bertani,yang
masih bersifat tradisional seperti besi gali,cangkul,sabit dan parang.
d.
Sistem Kesenian
Kesenian mengacu pada nilai keindahan yang
berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan
telinga ataupun mata . kesenian yang bisa kita nikmati atau melihat di daerah
niki-niki yaitu, menenun dan mengukir. Tenunan merupakan salah satu karya seni
yang paling terkenal dalam kebudayaan masyarakat niki-niki. Karya seni ini
dilakukan oleh kaum perempuan. Seorang perempuan dianggap dewasa jika sudah
bias menghasilkan selembar kain selimut untuk laki-laki (mau) dan kain sarung
untuk perempuan (tais). Sedangkan untuk laki-laki,mereka mengerjakan seni
mengukir. Dalam seni menenun,ada beberapa corak yang muncul dalam kain tenun
seperti geometris, bunga,sisik ,ular, buaya, cecak,undang,segitiga dan ayam.
e.
Sistem Mata Pencaharian Hidup
Mata pencaharian atau aktivitas ekonomi suatu
masyarakat untuk mencukupi kebutuhan mereka. Pada masyarakat niki-niki mata
pencarian utama mereka adalah bidang pertanian. Sistim bertani yang dikenal
dalam masyarakat niki-niki adalah berpindah-pindah dengan menebang hutan dan
pembakaran. Selain itu pada masyarakat niki-niki juga mata pencariannya
berternak, biasanya hewan-hewan yang dipelihara yaitu sapi, kuda, kerbau, babi
dan ayam. Teknik berternak yang ada di masyarakat niki-niki yaitu melaukan
pemeliharaan yang esensial, dan juga masyarakat niki-niki mengenal teknik
kerajinan seperti tenun ikat. Selain itu mereka juga biasanya mereka juga
memburu binatang liar untuk mencukupi kebutuhan kehidupan mereka.
f. Sistem
Religi
Asal mula permasalahan fungsi religi dalam
masyarakat adalah adanya pertanyaan mengapa manusia percaya kepada adanya suatu
kekuatan gaib atau supranatural yang dianggap lebih tinggi daripada manusia dan
mengapa
manusia
itu melakukan berbagai cara untuk berkomunikasi dan mencari hubungan-hubungan
dengan kekuatan-kekuatan supranatural tersebut. Di desa Niki-niki sendiri,pada zaman
dahulu masyarakat menganggap bahwa raja merupakan penguasa alam semesta. Dimana
raja pertama dari kerajaan Amanuban yaitu Olak Mali berserta istrinya
menyakinkan kepala suku yang ada di Tunbes yang masih primitif,seperti
Nuban,Tenis,Asbanu dan Nubatonis yakni (sinuban yang suka natoni),bahwa
dia(Olak Mali) adalah penguasah dan pemimpin Amanuban(Raja atau Usif).
Kemudian pada tahun 1641,masyarakat Amanuban
telah memeluk agama katolik. Ditandai dengan kunjungan missi Padrie Jacinto de
Dominggo,namun disayangkan nama baptis mereka tidak dicantumkan dalam daftar
nama silsilah raja-raja Amanuban. Dan pada tahun 1946,Raja Leu Nope atau Johan
Paulus Nope,dibaptis menjadi Kristen Protestan dan bersama seluruh rakyat
Amanuban menjadi penganut agama Kristen Protestan hingga sekarang. Sekarang
sistim religi atau system kepercayaan masyarakat Niki-niki adalah Tuhan Yesus
kristus yang merupakan jurus selamat dunia yang merupakan kepercayaan
orang-orang Kristen Protestan.
g.
Sistem kekerabatan dan Organisasi
kemasyarakat
Sistem kekerabatan merupakan bagian penting
dalam struktur social. Dimana system kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan
sruktur social dari masyarakat yang bersangkutan. Pada masyarakat niki-niki,
ada pengelompokan kekerabatan yaitu:
a.
Keluarga batin atau ume, yang
beranggotanya terdiri dari ayah,ibu dan anak.
b.
Kelompok keluarga luas atau puknes yang
terdiri dari beberapa keluarga batin tatapi belum merupakan suatu klan.
c.
Klan kecil atau kuanes yang anggotanya
gabungan dari kelompok keluarga luas yang masih merupakan keturunan dari satu
nenek sampai cicitnya.
d.
Klan besar atau kanaf yang para
anggotanya mengaku bahwa meraka merupakan keturunan dari satu nenek moyang yang
terbagi-bagi dalam klan kecil. Klan besar ini di pahami sebagai suku.
B.
Model Manajemen Berbasis Sekolah Terhadap Partisipasi Masyarakat
Model manajemen berbasis sekolah
menempatkan sekolah sebagai lembaga yang memiliki kewenangan dalam
menerapkan kebijakan,misi,tujuan,sasaran
dan strategi yang berdampak terhadap kinerja sekolah. Konsep manajemen berbasis
sekolah (MBS), dalam bahasa Inggris disebut School
Based Management merupakan strategi
yang jitu untuk mencapai manajemen sekolah yang efektif dan efisien. Konsep MBS
ini,pertama kali munsul di Amerika Serikat, latar belakangnya adalah ketika itu
masyarakat mempertanyakan apa yang dapat diberikan sekolah kepada masyarakat
dan juga apa relevasi dan korelasi pendidikan dengan tuntutan maupun kebutuhan
masyarakat. Di Indanesia sendiri model manajemen berbasis sekolah muncul akibat
perubahan politik dan krisis ekonomi yang berkembang menjadi krisis social
politik yang berdampak pada perubahan dalam manajemen pendidikan.
Model
manajemen berbasis sekolah dinegara kita yaitu pendidikan tidak menjadi
wewenang dan tanggung jawab sekolah,tetapi terdapat pembagian kewenangan antara
pusat propinsi,kabupaten/kota,kecamatan dan sekolah dalam mengelola pendidikan.
Artinya Model MBS di Negara kita tidak diartikan sebagai otonomi penuh sekolah
terdapat visi dan misi yang perlu dipertahankannya untuk menjadi persatuan dan
kesatuan stadar mutu. Sehingga itu, masyarakat juga dapat berpartisipasi dalam
meningkatkan mutu pendidikan serta mutu dari sekolah tersebut.
Peran masyarakat dalam penyelenggaran
pendidikan sangatlah penting sebagai salah satu elemen pendukung terwujudnya
pendidikan berbasis masyarakat. Hal ini, sebagai bukti bahwa manfaat pendidikan
benar-benar dirasakan masyarakat. Salah satu bentuk peran serta masyarakat
dalam pendidikan, yang meliputi peran serta
perorangan,kelompok,keluarga,organisasi profesi dan organisasi kemasyarakatan.
Misalnya, masyarakat bisa turut serta dalam mengembangkan dan melaksanakan
kurikulum,evaluasi pendidikan serta mengawasi agar pengelolaan dan pendanaannya
sesuai dengan standar pendidikan nasional. Hubungan sekolah dengan masyarakat
pada hakikatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan
mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didk di sekolah. Dalam hal ini,
sekolah sebagai system social merupakan bagian integral dari system social yang
lebih besar, yaitu masyarakat.
Orang
tua siswa dan masyarakat berpartisipasi secara aktif, karenasekolah memenuhi
kebutuhan mereka, menghargai ide-ide mereka dan responsive terhadap aspirasi
mereka. Sekolah seperti inilah yang ingin diwujudkan melalui agenda reformasi
pendidikan dalam konteks manajeman
peningkatan mutu berbasis sekolah. Konsep manajemen berbasis sekolah
(MBS), dalam bahasa Inggris disebut School
Based Management merupakan strategi
yang jitu untuk mencapai manajemen sekolah yang efektif dan efisien. Konsep MBS
ini,pertama kali munsul di Amerika Serikat, latar belakangnya adalah ketika itu
masyarakat mempertanyakan apa yang dapat diberikan sekolah kepada masyarakat
dan juga apa relevasi dan korelasi pendidikan dengan tuntutan maupun kebutuhan
masyarakat.
Kriteria –kriteria Manajemen Berbasis
Sekolah dalam melaksanakan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah, yaitu:
1.
Komitmen, kepala sekolah dan warga
sekolah harus mempunyai komitmen yang kuat dalam upaya menyelenggarakan semua
kegiatan sekolah.
2.
Kesiapan, semua warga sekolah harus siap
fisik dan mental.
3.
Keterlibatan, pendidikan yang efektif
melibatkan semua pihak dalam mendidik anak.
4.
Kelembagaan, sekolah sebagai tenaga
adalah unit terpenting bagi pendidkan efektif.
5.
Keputusan, segala keputusan sekolah
dibuat oleh pihak yang benar-benar mengerti tentang pendidikan.
6.
Kemandirian, sekolah harus diberi
otonomi sehingga memiliki kemandirian dalam membuat keputusan pengalokasian
dana.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pada
pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat di Niki-niki,sering kali menggunakan bahasa
daerah(uab meto) sebagai bahasa percakapan atau alat komunikasi sehari-hari.
Mereka memperoleh pengetahuan dengan bersekolah,lingkungan sekitar dan Tv.
Untuk peralatan yang sering digunakan oleh masyarakat niki-niki dalam
bertani,yang masih bersifat tradisional seperti besi gali,cangkul,sabit dan
parang. Kesenian yang bisa kita nikmati atau melihat di daerah niki-niki yaitu,
menenun dan mengukir. Mata pencarian masyarakat Niki-niki yaitu bertani,
berternak, menenun dan berburu sedangkan system religi atau kepercayaannya
yaitu Kristen Protestan. Pada masyarakat niki-niki,juga ada pengelompokan kekerabatan yaitu:
a.
Keluarga batin atau ume, yang
beranggotanya terdiri dari ayah,ibu dan anak.
b.
Kelompok keluarga luas atau puknes yang
terdiri dari beberapa keluarga batin tatapi belum merupakan suatu klan.
c.
Klan kecil atau kuanes yang anggotanya
gabungan dari kelompok keluarga luas yang masih merupakan keturunan dari satu
nenek sampai cicitnya.
d.
Klan besar atau kanaf yang para
anggotanya mengaku bahwa meraka merupakan keturunan dari satu nenek moyang yang
terbagi-bagi dalam klan kecil. Klan besar ini di pahami sebagai suku.
Model
manajemen berbasis sekolah menempatkan sekolah sebagai lembaga yang memiliki kewenangan dalam menerapkan kebijakan,misi,tujuan,sasaran dan strategi
yang berdampak terhadap kinerja sekolah. Peran masyarakat dalam penyelenggaran
pendidikan sangatlah penting sebagai salah satu elemen pendukung terwujudnya
pendidikan berbasis masyarakat. Hal ini, sebagai bukti bahwa manfaat pendidikan
benar-benar dirasakan masyarakat. Salah satu bentuk peran serta masyarakat
dalam pendidikan, yang meliputi peran serta
perorangan,kelompok,keluarga,organisasi profesi dan organisasi kemasyarakatan.
Misalnya, masyarakat bisa turut serta dalam mengembangkan dan melaksanakan
kurikulum,evaluasi pendidikan serta mengawasi agar pengelolaan dan pendanaannya
sesuai dengan standar pendidikan nasional. Hubungan sekolah dengan masyarakat
pada hakikatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan
mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didk di sekolah.
Kriteria –kriteria Manajemen Berbasis Sekolah
dalam melaksanakan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah, yaitu:
1.
Komitmen, kepala sekolah dan warga
sekolah harus mempunyai komitmen yang kuat dalam upaya menyelenggarakan semua
kegiatan sekolah.
2.
Kesiapan, semua warga sekolah harus siap
fisik dan mental.
3.
Keterlibatan, pendidikan yang efektif
melibatkan semua pihak dalam mendidik anak.
4.
Kelembagaan, sekolah sebagai tenaga
adalah unit terpenting bagi pendidkan efektif.
5.
Keputusan, segala keputusan sekolah
dibuat oleh pihak yang benar-benar mengerti tentang pendidikan.
6.
Kemandirian, sekolah harus diberi
otonomi sehingga memiliki kemandirian dalam membuat keputusan pengalokasian
dana.
B.
Saran
Diharapkan kita sebagai Generasi masa depan
bangsa harus dapat mengetahui setiap unsur-unsur kebudayaan yang ada di dearah
kita masing-masing serta dapat melestarikannya. Dan juga kita sebagai
masyarakat harus berpartisipasi dalam penyelenggara pendidikan yang ada
disekitar kita.
DAFTAR PUSTAKA
https://id.m.wikipedia.org/wiki/kerajaan_Amanuban.
Mulyono.2008.Manajemen Admistrasi dan Organisasi
Pendidikan. Jogjakarta:Ar-Ruzz Media.
Kompri.2014.Manajemen Sekolah teori & praktek.Bandung:Alfa
Beta.
Htpp://ttskab.go.id/webtts
2011/index. diunduh pada hari 17 september pukul 18.33 wita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar