Kamis, 30 Maret 2017

Makalah Kebudayaan dari daerah Niki-niki



                                                                   
KATA PENGANTAR


            Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas tuntunan dan penyertaanNya, kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan Makalah manajemen berbasis sekolah yang membahas tentang tujuh kebudayaan dari daerah Niki-niki serta dengan model manajemen  berbasis sekolah terhadap partisipasi masyarakat dan Kriteria MBS.
            Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah’Manajemen Berbasis Sekolah’. Makalah  ini jauh dari kesempurnaan oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari Dosen Mata Kuliah Manajemen Berbasis Sekolah, sehingga kedepanya dalam penulisan makalah berikutnya penulis dapat membuat makalah yang lebih baik.
                                                                  






           
                                                                                          Kupang,12 Oktober 2016


                                                                                                                   Penulis




ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………..………………………………………………….………i
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………ii
DAFTAR ISI ………….…………………………………………………………………………iii
BAB 1 PENDAHULUAN………………………………………………………………………..1
            A.  Latar Belakang …………………………………………………………….……….…1
            B.  Rumusan Masalah ………………………………………………………….………....1
            C. Tujuan ………………………………………………………………………...………..1
BAB II PEMBAHASAN  ………………………………………………………………………..2
A. Tujuh Unsur Kebudayaan dari Niki-niki…………………………………...………….3
      a. Bahasa…………………………………………………………………...…………3
      b. Sistem Pengetahuan………………………………………………………………..3
      c. Sistem Teknologi dan Peralatan…………………………………………………....3
      d. Sistem Kesenian …………………………………………………………………..4
      e. Sistem Mata Pencarian Hidup …………………………………………………….4
      g. Sistem Kekerabatan dan Organisasi Kemasyarakatan………………………......5
B. Model Manajemen Berbasis Sekolah Terhadap Partisipasi Masyarakat…………..6
BAB III PENUTUP …………………………………………………………………………...…8
A.     Kesimpulan …………………………………………………………………………..8
B.     Saran ………………………………………………………………………………….9
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………….10




iii
    BAB 1

PENDAHULUAN
A.    Latar  Belakang
      Setiap daerah mempunyai budayanya masing-masing. “kebudayaan” berasal dari kata sansekerta buddhayah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal, sehingga menurutnya kebudayaan dapat diartikan sebagai hal- hal yang bersangkutan dengan budi dan akal, ada juga yang berpendapat sebagai suatu perkembangan dari majemuk budi- daya yang artinya daya dari budi atau kekuatan dari akal. Setiap kebudayaaan memiliki unsurnya masing-masing. Ada beberapa unsur budaya diantaranya sistem religi,sistim pengetahuan,bahasa,sistem kesenian, sistem kekerabatan dan organisasi kemasyarakat,sistim mata pencarian hidup dan sistim teknologi dan peralatan. Tujuh unsur kebudayaan ini dikemukakan oleh C.Kluckhon dalam bukunya yang berjudul Universal Categories of Culture. Tujuh kebudayaan ini akan diuraikan dalam kebudayaan Niki-niki. Niki-niki atau desa Niki-niki merupakan semua desa yang terletak di Kecamatan Amanuban Tengah,Timor Tengah Selatan (TTS). Niki-niki didirikan oleh raja Don Louis III (1808-1824), yang merupakan raja Amanuban. Selain sebagai pendiri beliu, juga menetapkan nama Nope sebagai marga Dinasti Nope. Desa Niki-niki berasal dari kata Nik-nik yang berarti menjilat-jilat dan melihat kebelakang. Di Niki-niki terdapat  sebuah warisan yang patuh dijaga dan dilestarikan yaitu sebuah kerajaan Amanuban. Yang sekarang dijaga oleh para keturunan dari raja Nope.
       Kesadaranakan pentingnya pendidikan yang dapat memberikan harapan dan kemungkinan yang lebih baik dimasa mendatang,telah mendorong berbagai upaya dan perhatian seluruh lapisan masyarakat terhadap setiap gerak langkah dan perkembangan dunia pendidikan. Untuk itu manajemen berbasis sekolah (MBS), yang merupakan suatu bentuk atau pengeolahan sekolah dalam rangka desentralisasi.


Manajemen berbasis sekolah (MBS),memberikan tempat bagi masyarakat dalam berpartisipasi dalam perkembangan dan kemanjuan sekolah. Di Indonesia sendiri,model manajemen berbasis sekolah atau MBS yang diterapkan yaitu pendidikan tidak menjadi wewenang dan tanggung jawab sekolah,tetapi terdapat pembagian kewenangan antara pusat propinsi,kabupaten/kota,kecamatan dan sekolah dalam mengelola pendidikan. Artinya Model MBS di Negara kita tidak diartikan sebagai otonomi penuh sekolah terdapat visi dan misi yang perlu dipertahankannya untuk menjadi persatuan dan kesatuan stadar mutu.
     Tujuh unsur kebudayaan yang ada di desa Niki-niki berserta model Manajemen berbasis sekolah terhadap partisipasi masyarakat dan kriteria Manajemen berbasis sekolah (MBS),akan dibahas lebih terpenci dan lengkap dalam makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
      Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu:
1.      Apa saja tujuh unsur kebudayaan yang ada di kota Niki-niki?
2.      Apa saja model manajemen berbasis sekolah terhadap partisipasi masyarakat dan criteria manajemen berbasis sekolah?


C.     Tujuan
    Dari rumusan masalah diatas,maka tujuannya adalah :
1.      Mengetahui tujuh unsure kebudayaan dari kota Niki-niki.
2.      Mengetahui model manajemen berbasis sekolah terhadap partisipasi masyarakat dan Kriteria manajemen berbasis sekolah








                                                                           BAB II
PEMBAHASAN


A.    Tujuh Unsur Kebudayaan dari Niki-Niki
    Dalam latar belakang sudah dibahas tentang desa Niki-niki atau asal mula desa Niki-niki. Budaya atau kebudayaan yang ada di Niki-niki belum dibahas pada bab sebelumnya. Karena itu, pada bab ini akan dibahas  menyenai tujuh unsur kebudayaan yang ada di Niki-niki. Tujuh unsur kebudayaan itu sebagai berikut :
a.       Bahasa
    Bahasa merupakan sarana bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan sosialnya untuk berinteraksi atau berhubungan dengan sesamanya. Dalam ilmu antropologi, studi mengenai bahasa disebut dengan istilah antropologi linguistik. Masayarakat niki-niki sering kali menggunakan bahasa daerah(uab meto) sebagai bahasa percakapan atau alat komunikasi sehari-hari. Apalagi dalam urusan tertentu misalnya, yang ada hubungannya dengan adat istiadat.
b.      Sistem Pengetahuan
     Sistem pengetahuan sangat luas batasannya karena mencakup pengetahuan manusia tentang berbagai unsur yang digunakan dalam kehidupannya. Sistem pengetahuan untuk masyarakat niki-niki yaitu dengan bersekolah,lingkungan sekitar dan Tv.
c.       Sistem Teknologi dan Peralatan
    Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan hidupnya sehingga mereka akan selalu membutukan peralatan dan teknologi. Untuk peralatan yang sering digunakan oleh masyarakat niki-niki dalam bertani,yang masih bersifat tradisional seperti besi gali,cangkul,sabit dan parang.


                                             


d.      Sistem Kesenian
   Kesenian mengacu pada nilai keindahan yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan telinga ataupun mata . kesenian yang bisa kita nikmati atau melihat di daerah niki-niki yaitu, menenun dan mengukir. Tenunan merupakan salah satu karya seni yang paling terkenal dalam kebudayaan masyarakat niki-niki. Karya seni ini dilakukan oleh kaum perempuan. Seorang perempuan dianggap dewasa jika sudah bias menghasilkan selembar kain selimut untuk laki-laki (mau) dan kain sarung untuk perempuan (tais). Sedangkan untuk laki-laki,mereka mengerjakan seni mengukir. Dalam seni menenun,ada beberapa corak yang muncul dalam kain tenun seperti geometris, bunga,sisik ,ular, buaya, cecak,undang,segitiga dan ayam.
e.       Sistem Mata Pencaharian Hidup
        Mata pencaharian atau aktivitas ekonomi suatu masyarakat untuk mencukupi kebutuhan mereka. Pada masyarakat niki-niki mata pencarian utama mereka adalah bidang pertanian. Sistim bertani yang dikenal dalam masyarakat niki-niki adalah berpindah-pindah dengan menebang hutan dan pembakaran. Selain itu pada masyarakat niki-niki juga mata pencariannya berternak, biasanya hewan-hewan yang dipelihara yaitu sapi, kuda, kerbau, babi dan ayam. Teknik berternak yang ada di masyarakat niki-niki yaitu melaukan pemeliharaan yang esensial, dan juga masyarakat niki-niki mengenal teknik kerajinan seperti tenun ikat. Selain itu mereka juga biasanya mereka juga memburu binatang liar untuk mencukupi kebutuhan kehidupan mereka.
f.       Sistem Religi
   Asal mula permasalahan fungsi religi dalam masyarakat adalah adanya pertanyaan mengapa manusia percaya kepada adanya suatu kekuatan gaib atau supranatural yang dianggap lebih tinggi daripada manusia dan mengapa
           manusia itu melakukan berbagai cara untuk berkomunikasi dan mencari hubungan-hubungan dengan kekuatan-kekuatan supranatural tersebut.                                                                                                                                                                                                   Di desa Niki-niki sendiri,pada zaman dahulu masyarakat menganggap bahwa raja merupakan penguasa alam semesta. Dimana raja pertama dari kerajaan Amanuban yaitu Olak Mali berserta istrinya menyakinkan kepala suku yang ada di Tunbes yang masih primitif,seperti Nuban,Tenis,Asbanu dan Nubatonis yakni (sinuban yang suka natoni),bahwa dia(Olak Mali) adalah penguasah dan pemimpin Amanuban(Raja atau Usif).
     Kemudian pada tahun 1641,masyarakat Amanuban telah memeluk agama katolik. Ditandai dengan kunjungan missi Padrie Jacinto de Dominggo,namun disayangkan nama baptis mereka tidak dicantumkan dalam daftar nama silsilah raja-raja Amanuban. Dan pada tahun 1946,Raja Leu Nope atau Johan Paulus Nope,dibaptis menjadi Kristen Protestan dan bersama seluruh rakyat Amanuban menjadi penganut agama Kristen Protestan hingga sekarang. Sekarang sistim religi atau system kepercayaan masyarakat Niki-niki adalah Tuhan Yesus kristus yang merupakan jurus selamat dunia yang merupakan kepercayaan orang-orang Kristen Protestan.
g.      Sistem kekerabatan dan Organisasi kemasyarakat
   Sistem kekerabatan merupakan bagian penting dalam struktur social. Dimana system kekerabatan suatu masyarakat  dapat dipergunakan untuk menggambarkan sruktur social dari masyarakat yang bersangkutan. Pada masyarakat niki-niki, ada pengelompokan kekerabatan yaitu:
a.       Keluarga batin atau ume, yang beranggotanya terdiri dari ayah,ibu dan anak.
b.      Kelompok keluarga luas atau puknes yang terdiri dari beberapa keluarga batin tatapi belum merupakan suatu klan.
c.       Klan kecil atau kuanes yang anggotanya gabungan dari kelompok keluarga luas yang masih merupakan keturunan dari satu nenek sampai cicitnya.                                                                                                                     
d.      Klan besar atau kanaf yang para anggotanya mengaku bahwa meraka merupakan keturunan dari satu nenek moyang yang terbagi-bagi dalam klan kecil. Klan besar ini di pahami sebagai suku.

B.     Model Manajemen Berbasis Sekolah  Terhadap Partisipasi Masyarakat
     Model manajemen berbasis sekolah menempatkan sekolah sebagai lembaga yang memiliki kewenangan dalam menerapkan  kebijakan,misi,tujuan,sasaran dan strategi yang berdampak terhadap kinerja sekolah. Konsep manajemen berbasis sekolah (MBS), dalam bahasa Inggris disebut School Based Management  merupakan strategi yang jitu untuk mencapai manajemen sekolah yang efektif dan efisien. Konsep MBS ini,pertama kali munsul di Amerika Serikat, latar belakangnya adalah ketika itu masyarakat mempertanyakan apa yang dapat diberikan sekolah kepada masyarakat dan juga apa relevasi dan korelasi pendidikan dengan tuntutan maupun kebutuhan masyarakat. Di Indanesia sendiri model manajemen berbasis sekolah muncul akibat perubahan politik dan krisis ekonomi yang berkembang menjadi krisis social politik yang berdampak pada perubahan dalam manajemen pendidikan.
        Model  manajemen berbasis sekolah dinegara kita yaitu pendidikan tidak menjadi wewenang dan tanggung jawab sekolah,tetapi terdapat pembagian kewenangan antara pusat propinsi,kabupaten/kota,kecamatan dan sekolah dalam mengelola pendidikan. Artinya Model MBS di Negara kita tidak diartikan sebagai otonomi penuh sekolah terdapat visi dan misi yang perlu dipertahankannya untuk menjadi persatuan dan kesatuan stadar mutu. Sehingga itu, masyarakat juga dapat berpartisipasi dalam meningkatkan mutu pendidikan serta mutu dari sekolah tersebut.
     Peran masyarakat dalam penyelenggaran pendidikan sangatlah penting sebagai salah satu elemen pendukung terwujudnya pendidikan berbasis masyarakat. Hal ini, sebagai bukti bahwa manfaat pendidikan benar-benar dirasakan masyarakat. Salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam pendidikan, yang meliputi peran serta perorangan,kelompok,keluarga,organisasi profesi dan organisasi kemasyarakatan. Misalnya, masyarakat bisa turut serta dalam mengembangkan dan melaksanakan kurikulum,evaluasi pendidikan serta mengawasi agar pengelolaan dan pendanaannya sesuai dengan standar pendidikan nasional. Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakikatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didk di sekolah. Dalam hal ini, sekolah sebagai system social merupakan bagian integral dari system social yang lebih besar, yaitu masyarakat.
Orang tua siswa dan masyarakat berpartisipasi secara aktif, karenasekolah memenuhi kebutuhan mereka, menghargai ide-ide mereka dan responsive terhadap aspirasi mereka. Sekolah seperti inilah yang ingin diwujudkan melalui agenda reformasi pendidikan dalam konteks manajeman  peningkatan mutu berbasis sekolah. Konsep manajemen berbasis sekolah (MBS), dalam bahasa Inggris disebut School Based Management  merupakan strategi yang jitu untuk mencapai manajemen sekolah yang efektif dan efisien. Konsep MBS ini,pertama kali munsul di Amerika Serikat, latar belakangnya adalah ketika itu masyarakat mempertanyakan apa yang dapat diberikan sekolah kepada masyarakat dan juga apa relevasi dan korelasi pendidikan dengan tuntutan maupun kebutuhan masyarakat.
         Kriteria –kriteria Manajemen Berbasis Sekolah dalam melaksanakan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah, yaitu:
1.      Komitmen, kepala sekolah dan warga sekolah harus mempunyai komitmen yang kuat dalam upaya menyelenggarakan semua kegiatan sekolah.
2.      Kesiapan, semua warga sekolah harus siap fisik dan mental.
3.      Keterlibatan, pendidikan yang efektif melibatkan semua pihak dalam mendidik anak.
4.      Kelembagaan, sekolah sebagai tenaga adalah unit terpenting bagi pendidkan efektif.
5.      Keputusan, segala keputusan sekolah dibuat oleh pihak yang benar-benar mengerti tentang pendidikan.
6.      Kemandirian, sekolah harus diberi otonomi sehingga memiliki kemandirian dalam membuat keputusan pengalokasian dana.  




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
     Pada pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat  di Niki-niki,sering kali menggunakan bahasa daerah(uab meto) sebagai bahasa percakapan atau alat komunikasi sehari-hari. Mereka memperoleh pengetahuan dengan bersekolah,lingkungan sekitar dan Tv. Untuk peralatan yang sering digunakan oleh masyarakat niki-niki dalam bertani,yang masih bersifat tradisional seperti besi gali,cangkul,sabit dan parang. Kesenian yang bisa kita nikmati atau melihat di daerah niki-niki yaitu, menenun dan mengukir. Mata pencarian masyarakat Niki-niki yaitu bertani, berternak, menenun dan berburu sedangkan system religi atau kepercayaannya yaitu Kristen Protestan. Pada masyarakat niki-niki,juga  ada pengelompokan kekerabatan yaitu:
a.       Keluarga batin atau ume, yang beranggotanya terdiri dari ayah,ibu dan anak.
b.      Kelompok keluarga luas atau puknes yang terdiri dari beberapa keluarga batin tatapi belum merupakan suatu klan.
c.       Klan kecil atau kuanes yang anggotanya gabungan dari kelompok keluarga luas yang masih merupakan keturunan dari satu nenek sampai cicitnya.                                                                                                                      
d.      Klan besar atau kanaf yang para anggotanya mengaku bahwa meraka merupakan keturunan dari satu nenek moyang yang terbagi-bagi dalam klan kecil. Klan besar ini di pahami sebagai suku.
             Model manajemen berbasis sekolah menempatkan sekolah sebagai lembaga yang memiliki      kewenangan dalam menerapkan  kebijakan,misi,tujuan,sasaran dan strategi yang berdampak terhadap kinerja sekolah. Peran masyarakat dalam penyelenggaran pendidikan sangatlah penting sebagai salah satu elemen pendukung terwujudnya pendidikan berbasis masyarakat. Hal ini, sebagai bukti bahwa manfaat pendidikan benar-benar dirasakan masyarakat. Salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam pendidikan, yang meliputi peran serta perorangan,kelompok,keluarga,organisasi profesi dan organisasi kemasyarakatan. Misalnya, masyarakat bisa turut serta dalam mengembangkan dan melaksanakan kurikulum,evaluasi pendidikan serta mengawasi agar pengelolaan dan pendanaannya sesuai dengan standar pendidikan nasional. Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakikatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didk di sekolah.
      Kriteria –kriteria Manajemen Berbasis Sekolah dalam melaksanakan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah, yaitu:
1.      Komitmen, kepala sekolah dan warga sekolah harus mempunyai komitmen yang kuat dalam upaya menyelenggarakan semua kegiatan sekolah.
2.      Kesiapan, semua warga sekolah harus siap fisik dan mental.
3.      Keterlibatan, pendidikan yang efektif melibatkan semua pihak dalam mendidik anak.
4.      Kelembagaan, sekolah sebagai tenaga adalah unit terpenting bagi pendidkan efektif.
5.      Keputusan, segala keputusan sekolah dibuat oleh pihak yang benar-benar mengerti tentang pendidikan.
6.      Kemandirian, sekolah harus diberi otonomi sehingga memiliki kemandirian dalam membuat keputusan pengalokasian dana.

B.     Saran
   Diharapkan kita sebagai Generasi masa depan bangsa harus dapat mengetahui setiap unsur-unsur kebudayaan yang ada di dearah kita masing-masing serta dapat melestarikannya. Dan juga kita sebagai masyarakat harus berpartisipasi dalam penyelenggara pendidikan yang ada disekitar kita.



           




                                                             DAFTAR PUSTAKA
https://id.m.wikipedia.org/wiki/kerajaan_Amanuban.
Mulyono.2008.Manajemen Admistrasi dan Organisasi Pendidikan. Jogjakarta:Ar-Ruzz Media.
Kompri.2014.Manajemen Sekolah teori & praktek.Bandung:Alfa Beta.
Htpp://ttskab.go.id/webtts 2011/index. diunduh pada hari 17 september pukul 18.33 wita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar