PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN ABK
TUNAGRAHITA
MAKALAH
![]() |
NAMA-NAMA KELOMPOK4
Sislia Basaina. Nubatonis ( 1501020075 )
Saveria Kaka Daha(1401020051)
Rismawati Fanggidae (1501020071)
Oktaviana Seo( 1501020046 )
Charla N. F. Saba(1501020040)
Vemy S.R. Toleu ( 1501020091)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS KARYADARMA
KUPANG
2016
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,karena
berkatnyalah makalah pendidikan Inklusif tentang “pendidikan dan bimbingan anak
berkebutuhan khusus tunagrahita”,dapat
diselesaikan dengan baik.
Penyusun berharap agar setiap materi yang
dipaparkan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca,terutama bagi
mahasiswa yang mengikuti program mata kuliah pendidikan Inklusif.
Penyusun berharap bahwa materi tentang
pendidikan dan bimbingan anak berbutuhan khusus tunagrahita dalam makalah ini
belumlah sempurna,akan tetapi penyusun berharap demi kesempurnaan mareti ini
akan dibahas bersama teman-teman pada waktu perkuliahan pendidikan
Inklusif.
Kupang, November
2016
Penyusun
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL………………………………………………………………i
KATA PENGANTAR…………………………………………………………….ii
DAFTAR ISI………………………………………………………………....….iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang……………………………………………………………….....1
B.
Rumusan
Masalah………………………………………………………….......2
C.
Tujuan…………………..……………………………………………………...2
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Anak Tunagrahita……..…………………………………………..3
B.
Ciri-ciri
Anak Tunagrahita…………………………………………….....…..3
C.
Klasifikasi
Anak Tunagrahita……..…………………………………....……3
D.
Faktor
Penyebab Tunagrahita……………….…………………………....….7
E.
Prinsip
Pembelajaran Anak Tunagrahita…………………………………...7
F.
Pendidikan
Bagi Anak Tunagrahita…………………………………….....8
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan………………….………………………………………….11
B.
Saran…………………………………………………………………...11
DAFTAR PUSAKA…….…………………………………………………….12
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Anak tunagrahita merupakan bagian
dari anak berkebutuhan khusus. Gangguan perkembangan tersebut akan berpengaruh
terhadap aspek kehidupannya. Anak tunagrahita mengalami keterbatasan dalam
perilaku adaptif seperti berhubungan dengan orang lain dan terwujud selama
periode perkembangan. Istilah perilaku adaptif diartikan sebagai kemampuan
seseorang dalam memikul tanggung jawab sosial menurut ukuran norma sosial
tertentu dan bersifat kondisi sesuai dengan tahap perkembangannya. Anak
tunagrahita mengalami kesulitan dalam memahami dan mengartikan norma
lingkungan.
Anak tunagrahita memiliki
keterbatasan dalam penyesuaian diri dengan
lingkungan,
tidak mampu memikirkan hal yang abstrak dan yang berbelit-belit. Di sisi lain anak
tunagrahita dalam kesehariannya merupakan bagian dari anggota masyarakat dan
selalu dituntut dapat berperilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku
dilingkungannya. Kondisi tersebut mengakibatkan anak tunagrahita mendapat label
tertentu dari masyarakat seperti; anak gila, anak stress, anak bodoh dan
lain-lain.
Pendidikan merupakan bagian yang sangat penting.
Melalui pendidikan yang dikelola dengan baik dan melahirkan sumber daya manusia
yang memiliki kompetensi dan kualitas yang tinggi. Pembinaan dan pengembangan pendidikan
perlu terus dikembangkan dan diwujudkan melalui proses berkesinambungan.
Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 menyebutkan bahwa:
“Semua warga negara berhak
mendapatkan pengajaran dan pendidikan ini berarti bahwa negara tanpa kecuali, baik
yang normal maupun yang mengalami gangguan perkembangan baik fisik, mental,
emosi, sosial ataupun perilaku.“
Pendidikan yang diselenggarakan
bagi anak-anak berkelainan di Indonesia telah diatur dalam Keputusan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan No.0491/U/1992 tentang pendidikan yang khusus
diselenggarakan bagi peserta didik, yang menyandang kelainan fisik, mental,
perilaku, dan sosial. Maka sebagai guru yang memberikan pelayanan terhadap anak luar biasa, harus
memiliki dedikasi yang tinggi, pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan
kebutuhan pelayanan luar biasa bagi anak tunagrahita. Guru sangat memegang
peranan yang cukup penting bagi siswa penyandang tunagrahita yaitu membimbing
anak didiknya ke arah perkembangan yang positif. Guru harus menggunakan cara
yang tepat dalam usaha mencapai tingkat kemampuan yang optimal, sehingga
mendekati derajat kemampuan anak biasa pada umumnya. Secara terperinci para
penyusun akan membahasnya dalam makalah ini.
B.
Rumusan
masalah
Berdasarkan latar belakang diatas,
masalah yang akan dibahas dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut :
a.
Apa yang dimaksud dengan anak
tunagrahita?
b.
Apa ciri-ciri dari anak tunagrahita?
c.
Bagaimana klasifikasi dari anak
tunagrahita?
d.
Apa yang menjadi faktor penyebab
tunagrahita?
e.
Bagaimana cara membimbing anak
tunagrahita?
C.
Tujuan
Sesuai dengan masalah yang telah
dirumuskan, makalah ini bertujuan untuk menginformasikan atau menjelaskan
kepada pembaca, yakni :
a.
Pengertian anak tunagrahita
b.
Ciri-ciri anak tunagrahita
c.
Klasifikasi dari anak tunagrahita
d.
Faktor penyebab tunagrahita
e.
Cara membimbing anak tunagrahita
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Anak Tunagrahita
Menurut American Association on
Mental Deficiency (AAMD)
tunagrahita sebagai kelainan yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah
rata-rata, yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes dan muncul sebelum usia 16
tahun.
Menurut Japan League for
Mentally Retarded adalah lambannya fungsi intelektual, yaitu IQ 70 ke bawah
berdasarkan tes intelegensi baku dan terjadi pada masa perkembangan.
Kesimpulannya tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak
yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata dan ditandai oleh
keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial.
B.
Ciri-ciri
Anak Tunagrahita
Ciri-ciri anak tunagrahita adalah
sebagai berikut :
1.
Penampilan fisik tidak seimbang,
misalnya kepala terlalu kecil atau besar.
2.
Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai
usia.
3.
Tidak ada atau kurang sekali
perhatiannya terhadap lingkungan.
4.
Kordinasi gerakan kurang (gerakan sering
tidak terkendali).
C. Klasifikasi
Anak Tunagrahita
Tunagrahita
dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok :
1. Anak tunagrahita mampu
didik/tunagrahita ringan
a. Karakteristik kognitif
1) Mempunyai IQ berkisar 50-70.
2) Kapasitas belajarnya sangat terbatas
terutama untuk hal-hal yang abstrak, maka lebih banyak belajar dengan cara
membeo (rote learning) bukan dengan pengertian.
3) Kemampuan berpikir rendah, lambat
perhatian dan ingatannya rendah.
4) Masih mampu untuk menulis, membaca,
menghitung.
5) Mengalami kesulitan dalam
konsentrasi, sukar untuk diajak fokus.
6) Umur kecerdasannya apabila sudah dewasa sama dengan anak
normal yang berusia 12 tahun.
b. Karakteristik fisik
Anak
tunagrahita ringan nampak seperti anak normal, hanya sedikit
mengalami kelambatan dalam kemampuan sensomotorik.
c. Karakteristik sosial/perilaku
Anak tunagrahita ringan mampu bergaul, menyesuaikan di
lingkungan yang tidak terbatas pada keluarga saja, namun ada yang mampu mandiri
dalam masyarakat, mampu melakukan pekerjaan yang sederhana dan melakukannya
secara penuh sebagai orang dewasa.
d. Karakteristik emosi
1) Anak tunagrahita ringan sukar
berpikir abstrak dan logis, kurang memiliki kemampuan analisis, asosiasi lemah,
fantasi lemah, kurang mampu mengendalikan perasaan, mudah dipengaruhi,
kepribadian kurang harmonis karena tidak mampu menilai baik buruk.
2) Tidak mampu mendeteksi kesalahan
pada dirinya, sehingga acuh tak acuh.
e. Karakteristik motorik
1) Anak tunagrahita ringan mengalami
kelambatan dalam kemampuan sensorimotorik.
2) Dalam berbicaranya
banyak yang lancar, tetapi perbendaharan kata masih minim.
2. Anak tunagrahita mampu
latih/tunagrahita sedang
a. Karakteristik kognitif
1) Mempunyai IQ berkisar 30-50.
2) Anak tunagrahita sedang sangat sulit
bahkan tidak dapat belajar secara akademik seperti belajar menulis, membaca dan
berhitung tetapi dapat dilatih dalam hal yang sederhana sekedar diperkenalkan
membaca dan menulis namanya sendiri dan mengenal angka.
3) Rendahnya perhatian anak dalam
belajar akan menghambat daya ingat. Mereka mengalami kesukaran dalam memusatkan
perhatian, cepat beralih.
4) Kurang tangguh dalam menghadapi
tugas, pelupa dan sukar mengungkapkan ingatan dan mudah bosan.
5) Mudah beralih perhatiannya ke hal
yang dianggapnya lebih menarik dan keterbatasannya dalam kemampuan
intelektualnya sehingga kemampuan dalam bidang akademik sangat bersifat
sederhana.
6) Pada umur dewasa anak tunagrahita
baru mencapai kecerdasan setaraf anak normal umur 7 tahun atau 8 tahun.
b. Karakteristik fisik
Penampilannya menunjukkan sebagai
anak terbelakang, lebih menampakkan kecacatannya.
c. Karakteristik sosial/ perilaku
1) Banyak diantara anak tunagrahita
sedang yang sikap sosialnya kurang baik, rasa etisnya kurang dan nampak tidak
mempunyai rasa terima kasih, rasa belas kasihan dan rasa keadilan.
2) Masih mampu untuk mengurus,
memimpin, memelihara dirinya sendiri dan bersosialisasi dengan lingkungannya,
walaupun butuh proses yang lama. Contohnya mandi, makan, minum, berpakaian.
3) Sangat tergantung pada orang lain.
4) Bersikap kekanak-kanakan, sering
melamun atau hiperaktif
5) Mampu melindungi diri dari bahaya
dan dapat bekerja ringan tetapi tetap dalam pengawasan karena tanpa pengawasan
akan bekerja secara asal.
d. Karakteristik emosi
1) Dorongan emosi anak tunagrahita
berbeda-beda sesuai dengan tingkat ketunagrahitaannya.
2) Kehidupan emosinya sangat lemah,
mereka jarang sekali menghayati perasaan tanggung jawab dan hak sosialnya.
3) Memiliki imajinasi yang tinggi.
e. Karakteristik motorik
1) Kurang mampu untuk mengkoordinasikan
gerak tubuhnya.
2) Tangan-tangannya kaku.
3.
Anak
tunagrahita berat
Anak tunagrahita berat merupakan
anak tunagrahitta yang memiliki kecerdasan sangat rendah sehingga ia tidak
mampu mengurus diri sendiri atau
sosialisasi. Selain itu anak tunagrahita mampu rawat adalah anak tunagrahita
yang membutuhkan perawatan sepenuhnya sepanjang hidupnya, karena ia tidak mampu
terus hidup tanpa bantuan orang lain.
D. Faktor
Penyebab Tunagrahita
Mengenai
faktor penyebab ketunagrahita para ahli (tunagrahita) sudah membaginya
berdasarkan waktu terjadinya penyebab, disusun secara kronologis sebagai
berikut :
1. Prenatal (sebelum lahir)
Pada waktu bayi masih ada dalam kandungan, penyebabnya
seperti : campak, diabetes, cacar , juga ibu hamil yang kekurangan gizi, pemakai obat-obatan
dan juga perokok berat.
2. Natal (waktu lahir)
Proses melahirkan yang sudah terlalu lama dapat
mengakibatkan kekurangan oksigen pada bayi, juga tulang panggul ibu yang
terlalu kecil dapat menyebabkan otak terjepit dan menimbulkan pendarahan pada otak
(anoxia), juga proses melahirkan yang menggunakan alat bantu (penjepit, tang).
3. Pos Natal (sesudah lahir)
Pertumbuhan bayi yang kurang baik
seperti gizi buruk, busung lapar, demam tinggi yang disertai kejang-kejang,
kecelakaan, radang selaput otak (meningitis) dapat menyebabkan seorang anak
menjadi ketunaan (tunagrahita).
E. Prinsip
Pembelajaran Anak Tunagrahita
1. Prinsip kasih sayang
Guru hendaknya berbahasa yang lembut, sabar, rela berkorban
dan memberi contoh perilaku yang baik, ramah dan supel.
2. Keperagaan
Guru agar dalam kegiatan pembelajaran selalu mengaitkan
relevansinya dengan kehidupan nyata sehari-hari. Oleh karena itu, peserta didik
perlu dibawa ke lingkungan sosial,
maupun lingkungan alam. Bila tidak memungkinkan, guru dapat membawa berbagai
alat peraga.
3. Habilitasi dan Rehabilitasi
Habilitasi adalah usaha yang dilakukan seseorang agar anak
menyadari bahwa mereka masih memiliki kemampuan atau potensi yang dapat
dikembangkan meski kemampuan atau
potensi tersebut terbatas. Rehabilitasi adalah usaha yang dilakukan dengan
berbagai macam bentuk dan cara, sedikit demi sedikit mengembalikan kemampuan
yang hilang atau belum berfungsi optimal. Dalam kegiatan pembelajaran, guru
hendaknya berusaha mengembangkan kemampuan atau potensi anak seoptimal mungkin,
melalui berbagai cara yang dapat ditempuh.
F. Pendidikan Bagi Anak Tunagrahita
Anak tunagrahita sangat memerlukan
pendidikan serta layanan khusus yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Ada
beberapa pendidikan dan layanan khusus yang disediakan untuk anak tunagrahita,
yaitu:
1) Kelas Transisi
Kelas ini
diperuntukkan bagi anak yang memerlukan layanan khusus termasuk anak
tunagrahita. Kelas transisi sedapat mungkin berada disekolah reguler, sehingga
pada saat tertentu anak dapat bersosialisasi dengan anak lain. Kelas transisi
merupakan kelas persiapan dan pengenalan pengajaran dengan acuan kurikulum SD
dengan modifikasi sesuai kebutuhan anak.
2) Sekolah Khusus (Sekolah Luar Biasa
bagian C dan C1/SLB-C,C1)
Layanan
pendidikan untuk anak tunagrahita model ini diberikan pada Sekolah Luar Biasa.
Dalam satu kelas maksimal 10 anak dengan pembimbing/pengajar guru khusus dan
teman sekelas yang dianggap sama keampuannya (tunagrahita). Kegiatan belajar
mengajar sepanjang hari penuh di kelas khusus. Untuk anak tunagrahita ringan
dapat bersekolah di SLB-C, sedangkan anak tunagrahita sedang dapat bersekolah
di SLB-C1.
3) Pendidikan terpadu
Layanan
pendidikan pada model ini diselenggarakan di sekolah reguler. Anak tunagrahita
belajar bersama-sama dengan anak reguler di kelas yang sama dengan bimbingan
guru reguler. Untuk matapelajaran tertentu, jika anak mempunyai kesulitan, anak
tunagrahita akan mendapat bimbingan/remedial dari Guru Pembimbing Khusus (GPK)
dari SLB terdekat, pada ruang khusus atau ruang sumber. Biasanya anak yang
belajar di sekolah terpadu adalah anak yang tergolong tunagrahita ringan, yang
termasuk kedalam kategori borderline yang biasanya mempunyai
kesulitan-kesulitan dalam belajar (Learning Difficulties) atau disebut dengan
lamban belajar (Slow Learner).
4) Program sekolah di rumah
Progam ini
diperuntukkan bagi anak tunagrahita yang tidak mampu mengkuti pendidikan di
sekolah khusus karena keterbatasannya, misalnya: sakit. Program dilaksanakan di rumah dengan cara
mendatangkan guru PLB (GPK) atau terapis. Hal ini dilaksanakan atas kerjasama
antara orangtua, sekolah, dan masyarakat.
5) Pendidikan inklusif
Sejalan
dengan perkembangan layanan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, terdapat
kecenderungan baru yaitu model Pendidikan Inklusif. Layanan pendidikan inklusif
diselenggarakan pada sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama
dengan anak reguler, pada kelas dan guru/pembimbing yang sama. Pada kelas
inklusi, siswa dibimbing oleh 2 (dua) orang guru, satu guru reguler dan satu
lagu guru khusus. Guna guru khusus untuk memberikan bantuan kepada siswa
tunagrahita jika anak tersebut mempunyai kesulitan di dalam kelas. Semua anak
diberlakukan dan mempunyai hak serta kewajiban yang sama. Tapi saat ini
pelayanan pendidikan inklusif masih dalam tahap rintisan
6) Panti Rehabilitasi
Panti ini
diperuntukkan bagi anak tunagrahita pada tingkat berat, yang mempunyai
kemampuan pada tingkat sangat rendah, dan pada umumnya memiliki kelainan ganda
seperti penglihatan, pendengaran, atau motorik. Program di panti lebih terfokus
pada perawatan. Pengembangan dalam panti ini terbatas dalam hal :
a) Pengenalan diri
b) Sensorimotor dan persepsi
c) Motorik kasar dan ambulasi (pindah
dari satu temapt ke tempat lain)
d) Kemampuan berbahasa dan dan
komunikasi
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan
maka dapat disimpulkan, yakni:
1.
Tunagrahita adalah
istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual
di bawah rata-rata dan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan
ketidakcakapan dalam interaksi sosial.
2.
Ciri-ciri anak tunagrahita adalah
sebagai berikut :Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil
atau besar,tidak
dapat mengurus diri sendiri sesuai usia,tidak ada atau kurang sekali perhatiannya
terhadap lingkungan dan kordinasi
gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali).
3.
Klasifikasi
Anak Tunagrahita terbagi atas tiga yaitu Anak tunagrahita mampu latih/tunagrahita sedang, Anak tunagrahita mampu
latih/tunagrahita sedang dan Anak tunagrahita berat.
4.
Faktor
Penyebab Tunagrahita yaitu Prenatal (sebelum lahir), Natal
(waktu lahir) dan Pos natal (sesudah lahir).
5.
Cara
membimbing anak Tunagrahita dengan kasih sayang, keperagaan, habilitasi dan
rehabilitasi dan juga pendidikan serta layanan khusus.
B. Saran
Demikianlah
makalah yang kami buat dan kami sadar karena keterbatasan pada diri kami, maka
kami mengharapkan kritik dan saran dari pada pembaca demi kesempurnaan makalah ini atas segala
saran yang diberikan kepada kami selaku penyusun, mengucapkan terima kasih.
DAFTAR
PUSTAKA
Granida,
Dadang.2015. Pengantar Pendidikan
Inklusif . Bandung: PT. Refika Aditama.
Pertiwi,Ajeng.2015.Makalahpendidikananakberkebutuhan,ajengpertiwi.blogspot.co.id./2015/05/makalah-pendidikan-anak-berkebutuhan-S2.html,
diakses 19 November 2016.
Prita,Dhian.2014.Bimbinganbagianaktunagrahita,dhianprita.blogspot.co.id/2014/12/bimbingan-bagi-anak-tunagrahita.html,
diakses 19 November 2016.
.
