Kamis, 30 Maret 2017

Makalah Pendidikan dan Bimbingan ABK TunaGrahita


PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN ABK TUNAGRAHITA

MAKALAH


NAMA-NAMA KELOMPOK4

Sislia Basaina. Nubatonis ( 1501020075 )
Saveria Kaka Daha(1401020051)
Rismawati Fanggidae (1501020071)
Oktaviana Seo( 1501020046 )
Charla N. F. Saba(1501020040)
Yesi Yandra Atahau (1501020080)
Vemy S.R. Toleu ( 1501020091)



FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS KARYADARMA
KUPANG
2016




KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan  kepada Tuhan Yang Maha Esa,karena berkatnyalah makalah pendidikan Inklusif tentang “pendidikan dan bimbingan anak berkebutuhan khusus  tunagrahita”,dapat diselesaikan dengan baik.
Penyusun berharap agar setiap materi yang dipaparkan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca,terutama bagi mahasiswa yang mengikuti program mata kuliah pendidikan Inklusif.
       Penyusun berharap bahwa materi tentang pendidikan dan bimbingan anak berbutuhan khusus tunagrahita dalam makalah ini belumlah sempurna,akan tetapi penyusun berharap demi kesempurnaan mareti ini akan dibahas bersama teman-teman pada waktu perkuliahan pendidikan Inklusif. 


Kupang, November  2016

                                                                                                          Penyusun







                                                                             DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………………………………………………………………i

KATA PENGANTAR…………………………………………………………….ii
DAFTAR ISI………………………………………………………………....….iii

BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang……………………………………………………………….....1

B.     Rumusan Masalah………………………………………………………….......2

C.     Tujuan…………………..……………………………………………………...2

BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Anak Tunagrahita……..…………………………………………..3

B.     Ciri-ciri Anak Tunagrahita…………………………………………….....…..3
C.     Klasifikasi Anak Tunagrahita……..…………………………………....……3

D.    Faktor Penyebab Tunagrahita……………….…………………………....….7

E.     Prinsip Pembelajaran Anak Tunagrahita…………………………………...7

F.      Pendidikan Bagi Anak Tunagrahita…………………………………….....8
BAB III PENUTUP

A.    Kesimpulan………………….………………………………………….11

B.     Saran…………………………………………………………………...11

DAFTAR PUSAKA…….…………………………………………………….12

                                                                            BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Anak tunagrahita merupakan bagian dari anak berkebutuhan khusus. Gangguan perkembangan tersebut akan berpengaruh terhadap aspek kehidupannya. Anak tunagrahita mengalami keterbatasan dalam perilaku adaptif seperti berhubungan dengan orang lain dan terwujud selama periode perkembangan. Istilah perilaku adaptif diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam memikul tanggung jawab sosial menurut ukuran norma sosial tertentu dan bersifat kondisi sesuai dengan tahap perkembangannya. Anak tunagrahita mengalami kesulitan dalam memahami dan mengartikan norma lingkungan.
Anak tunagrahita memiliki keterbatasan dalam penyesuaian diri dengan lingkungan, tidak mampu memikirkan hal yang abstrak dan yang berbelit-belit. Di sisi lain anak tunagrahita dalam kesehariannya merupakan bagian dari anggota masyarakat dan selalu dituntut dapat berperilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku dilingkungannya. Kondisi tersebut mengakibatkan anak tunagrahita mendapat label tertentu dari masyarakat seperti; anak gila, anak stress, anak bodoh dan lain-lain.
Pendidikan merupakan bagian yang sangat penting. Melalui pendidikan yang dikelola dengan baik dan melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan kualitas yang tinggi. Pembinaan dan pengembangan pendidikan perlu terus dikembangkan dan diwujudkan melalui proses berkesinambungan. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 menyebutkan bahwa:
“Semua warga negara berhak mendapatkan pengajaran dan pendidikan ini berarti bahwa negara tanpa kecuali, baik yang normal maupun yang mengalami gangguan perkembangan baik fisik, mental, emosi, sosial ataupun perilaku.“
Pendidikan yang diselenggarakan bagi anak-anak berkelainan di Indonesia telah diatur dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0491/U/1992 tentang pendidikan yang khusus diselenggarakan bagi peserta didik, yang menyandang kelainan fisik, mental, perilaku, dan sosial. Maka sebagai guru yang memberikan  pelayanan terhadap anak luar biasa, harus memiliki dedikasi yang tinggi, pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan luar biasa bagi anak tunagrahita. Guru sangat memegang peranan yang cukup penting bagi siswa penyandang tunagrahita yaitu membimbing anak didiknya ke arah perkembangan yang positif. Guru harus menggunakan cara yang tepat dalam usaha mencapai tingkat kemampuan yang optimal, sehingga mendekati derajat kemampuan anak biasa pada umumnya. Secara terperinci para penyusun akan membahasnya dalam makalah ini.
B.     Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, masalah yang akan dibahas dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut :
a.       Apa yang dimaksud dengan anak tunagrahita?
b.      Apa ciri-ciri dari anak tunagrahita?
c.       Bagaimana klasifikasi dari anak tunagrahita?
d.      Apa yang menjadi faktor penyebab tunagrahita?
e.       Bagaimana cara membimbing anak tunagrahita?
C.    Tujuan
Sesuai dengan masalah yang telah dirumuskan, makalah ini bertujuan untuk menginformasikan atau menjelaskan kepada pembaca, yakni :
a.       Pengertian anak tunagrahita
b.      Ciri-ciri anak tunagrahita
c.       Klasifikasi dari anak tunagrahita
d.      Faktor penyebab tunagrahita
e.       Cara membimbing anak tunagrahita

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Anak Tunagrahita
Menurut American Association on Mental Deficiency (AAMD) tunagrahita sebagai kelainan yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata, yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes dan muncul sebelum usia 16 tahun.
Menurut Japan League for Mentally Retarded adalah lambannya fungsi intelektual, yaitu IQ 70 ke bawah berdasarkan tes intelegensi baku dan terjadi pada masa perkembangan. Kesimpulannya tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata dan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial.
B.     Ciri-ciri Anak Tunagrahita
Ciri-ciri anak tunagrahita adalah sebagai berikut :
1.      Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil atau besar.
2.      Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia.
3.      Tidak ada atau kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan.
4.      Kordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali).
C.    Klasifikasi Anak Tunagrahita
Tunagrahita dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok :
1.      Anak tunagrahita mampu didik/tunagrahita ringan
a.       Karakteristik kognitif
1)      Mempunyai IQ berkisar 50-70.
2)      Kapasitas belajarnya sangat terbatas terutama untuk hal-hal yang abstrak, maka lebih banyak belajar dengan cara membeo (rote learning) bukan dengan pengertian.
3)      Kemampuan berpikir rendah, lambat perhatian dan ingatannya rendah.
4)      Masih mampu untuk menulis, membaca, menghitung.
5)       Mengalami kesulitan dalam konsentrasi, sukar untuk diajak fokus.
6)        Umur kecerdasannya apabila sudah dewasa sama dengan anak normal yang berusia 12 tahun.
b.      Karakteristik  fisik
Anak tunagrahita ringan nampak seperti anak  normal, hanya sedikit mengalami kelambatan dalam kemampuan sensomotorik.
c.       Karakteristik sosial/perilaku
Anak tunagrahita ringan mampu bergaul, menyesuaikan di lingkungan yang tidak terbatas pada keluarga saja, namun ada yang mampu mandiri dalam masyarakat, mampu melakukan pekerjaan yang sederhana dan melakukannya secara penuh sebagai orang dewasa.
d.      Karakteristik emosi
1)      Anak tunagrahita ringan sukar berpikir abstrak dan logis, kurang memiliki kemampuan analisis, asosiasi lemah, fantasi lemah, kurang mampu mengendalikan perasaan, mudah dipengaruhi, kepribadian kurang harmonis karena tidak mampu menilai baik buruk.
2)      Tidak mampu mendeteksi kesalahan pada dirinya, sehingga acuh tak  acuh.
e.        Karakteristik motorik
1)      Anak tunagrahita ringan mengalami kelambatan dalam kemampuan sensorimotorik.
2)      Dalam berbicaranya banyak yang lancar, tetapi perbendaharan kata masih minim.
2.      Anak tunagrahita mampu latih/tunagrahita sedang
a.       Karakteristik kognitif
1)      Mempunyai IQ berkisar 30-50.
2)      Anak tunagrahita sedang sangat sulit bahkan tidak dapat belajar secara akademik seperti belajar menulis, membaca dan berhitung tetapi dapat dilatih dalam hal yang sederhana sekedar diperkenalkan membaca dan menulis namanya sendiri dan mengenal angka.
3)      Rendahnya perhatian anak dalam belajar akan menghambat daya ingat. Mereka mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian, cepat beralih.
4)      Kurang tangguh dalam menghadapi tugas, pelupa dan sukar mengungkapkan ingatan dan mudah bosan.
5)      Mudah beralih perhatiannya ke hal yang dianggapnya lebih menarik dan keterbatasannya dalam kemampuan intelektualnya sehingga kemampuan dalam bidang akademik sangat bersifat sederhana.
6)      Pada umur dewasa anak tunagrahita baru mencapai kecerdasan setaraf anak normal umur 7 tahun atau 8 tahun.
b.      Karakteristik fisik
    Penampilannya menunjukkan sebagai anak terbelakang, lebih menampakkan kecacatannya.
c.        Karakteristik sosial/ perilaku
1)      Banyak diantara anak tunagrahita sedang yang sikap sosialnya kurang baik, rasa etisnya kurang dan nampak tidak mempunyai rasa terima kasih, rasa belas kasihan dan rasa keadilan.
2)      Masih mampu untuk mengurus, memimpin, memelihara dirinya sendiri dan bersosialisasi dengan lingkungannya, walaupun butuh proses yang lama. Contohnya mandi, makan, minum, berpakaian.
3)      Sangat tergantung pada orang lain.
4)      Bersikap kekanak-kanakan, sering melamun atau hiperaktif
5)      Mampu melindungi diri dari bahaya dan dapat bekerja ringan tetapi tetap dalam pengawasan karena tanpa pengawasan akan bekerja secara asal.
d.      Karakteristik emosi
1)      Dorongan emosi anak tunagrahita berbeda-beda sesuai dengan tingkat ketunagrahitaannya.
2)      Kehidupan emosinya sangat lemah, mereka jarang sekali menghayati perasaan tanggung jawab dan hak sosialnya.
3)      Memiliki imajinasi yang tinggi.
e.       Karakteristik motorik
1)      Kurang mampu untuk mengkoordinasikan gerak tubuhnya.
2)      Tangan-tangannya kaku.
3.      Anak tunagrahita berat
Anak tunagrahita berat merupakan anak tunagrahitta yang memiliki kecerdasan sangat rendah sehingga ia tidak mampu mengurus diri sendiri  atau sosialisasi. Selain itu anak tunagrahita mampu rawat adalah anak tunagrahita yang membutuhkan perawatan sepenuhnya sepanjang hidupnya, karena ia tidak mampu terus hidup tanpa bantuan orang lain.  
D.    Faktor Penyebab Tunagrahita
Mengenai faktor penyebab ketunagrahita para ahli (tunagrahita) sudah membaginya berdasarkan waktu terjadinya penyebab, disusun secara kronologis sebagai berikut :
1.      Prenatal (sebelum lahir)
Pada waktu bayi masih ada dalam kandungan, penyebabnya seperti : campak, diabetes, cacar , juga ibu hamil yang kekurangan gizi, pemakai obat-obatan dan juga perokok berat.
2.      Natal (waktu lahir)
Proses melahirkan yang sudah terlalu lama dapat mengakibatkan kekurangan oksigen pada bayi, juga tulang panggul ibu yang terlalu kecil dapat menyebabkan otak terjepit dan menimbulkan pendarahan pada otak (anoxia), juga proses melahirkan yang menggunakan alat bantu (penjepit, tang).
3.      Pos Natal (sesudah lahir)
Pertumbuhan bayi yang kurang baik seperti gizi buruk, busung lapar, demam tinggi yang disertai kejang-kejang, kecelakaan, radang selaput otak (meningitis) dapat menyebabkan seorang anak menjadi ketunaan (tunagrahita).
E.     Prinsip Pembelajaran Anak Tunagrahita
1.      Prinsip kasih sayang
Guru hendaknya berbahasa yang lembut, sabar, rela berkorban dan memberi contoh perilaku yang baik, ramah dan supel.
2.      Keperagaan
Guru agar dalam kegiatan pembelajaran selalu mengaitkan relevansinya dengan kehidupan nyata sehari-hari. Oleh karena itu, peserta didik perlu dibawa ke lingkungan  sosial, maupun lingkungan alam. Bila tidak memungkinkan, guru dapat membawa berbagai alat peraga. 
3.      Habilitasi dan Rehabilitasi
Habilitasi adalah usaha yang dilakukan seseorang agar anak menyadari bahwa mereka masih memiliki kemampuan atau potensi yang dapat dikembangkan meski kemampuan  atau potensi tersebut terbatas. Rehabilitasi adalah usaha yang dilakukan dengan berbagai macam bentuk dan cara, sedikit demi sedikit mengembalikan kemampuan yang hilang atau belum berfungsi optimal. Dalam kegiatan pembelajaran, guru hendaknya berusaha mengembangkan kemampuan atau potensi anak seoptimal mungkin, melalui berbagai cara yang dapat ditempuh.
F.     Pendidikan Bagi Anak Tunagrahita
Anak tunagrahita sangat memerlukan pendidikan serta layanan khusus yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Ada beberapa pendidikan dan layanan khusus yang disediakan untuk anak tunagrahita, yaitu:
1)      Kelas Transisi
Kelas ini diperuntukkan bagi anak yang memerlukan layanan khusus termasuk anak tunagrahita. Kelas transisi sedapat mungkin berada disekolah reguler, sehingga pada saat tertentu anak dapat bersosialisasi dengan anak lain. Kelas transisi merupakan kelas persiapan dan pengenalan pengajaran dengan acuan kurikulum SD dengan modifikasi sesuai kebutuhan anak.
2)      Sekolah Khusus (Sekolah Luar Biasa bagian C dan C1/SLB-C,C1)
Layanan pendidikan untuk anak tunagrahita model ini diberikan pada Sekolah Luar Biasa. Dalam satu kelas maksimal 10 anak dengan pembimbing/pengajar guru khusus dan teman sekelas yang dianggap sama keampuannya (tunagrahita). Kegiatan belajar mengajar sepanjang hari penuh di kelas khusus. Untuk anak tunagrahita ringan dapat bersekolah di SLB-C, sedangkan anak tunagrahita sedang dapat bersekolah di SLB-C1.

3)      Pendidikan terpadu
Layanan pendidikan pada model ini diselenggarakan di sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler di kelas yang sama dengan bimbingan guru reguler. Untuk matapelajaran tertentu, jika anak mempunyai kesulitan, anak tunagrahita akan mendapat bimbingan/remedial dari Guru Pembimbing Khusus (GPK) dari SLB terdekat, pada ruang khusus atau ruang sumber. Biasanya anak yang belajar di sekolah terpadu adalah anak yang tergolong tunagrahita ringan, yang termasuk kedalam kategori borderline yang biasanya mempunyai kesulitan-kesulitan dalam belajar (Learning Difficulties) atau disebut dengan lamban belajar (Slow Learner).
4)      Program sekolah di rumah
Progam ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita yang tidak mampu mengkuti pendidikan di sekolah khusus karena keterbatasannya, misalnya: sakit. Program dilaksanakan di rumah dengan cara mendatangkan guru PLB (GPK) atau terapis. Hal ini dilaksanakan atas kerjasama antara orangtua, sekolah, dan masyarakat.
5)      Pendidikan inklusif
Sejalan dengan perkembangan layanan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, terdapat kecenderungan baru yaitu model Pendidikan Inklusif. Layanan pendidikan inklusif diselenggarakan pada sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler, pada kelas dan guru/pembimbing yang sama. Pada kelas inklusi, siswa dibimbing oleh 2 (dua) orang guru, satu guru reguler dan satu lagu guru khusus. Guna guru khusus untuk memberikan bantuan kepada siswa tunagrahita jika anak tersebut mempunyai kesulitan di dalam kelas. Semua anak diberlakukan dan mempunyai hak serta kewajiban yang sama. Tapi saat ini pelayanan pendidikan inklusif masih dalam tahap rintisan
6)      Panti Rehabilitasi
Panti ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita pada tingkat berat, yang mempunyai kemampuan pada tingkat sangat rendah, dan pada umumnya memiliki kelainan ganda seperti penglihatan, pendengaran, atau motorik. Program di panti lebih terfokus pada perawatan. Pengembangan dalam panti ini terbatas dalam hal :
a)      Pengenalan diri
b)      Sensorimotor dan persepsi
c)      Motorik kasar dan ambulasi (pindah dari satu temapt ke tempat lain)
d)     Kemampuan berbahasa dan dan komunikasi
e)      Bina diri dan kemampuan sosial


                                                                           BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan  pembahasan maka dapat disimpulkan, yakni:
1.      Tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata dan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial.
2.      Ciri-ciri anak tunagrahita adalah sebagai berikut :Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil atau besar,tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia,tidak ada atau kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan dan kordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali).
3.      Klasifikasi Anak Tunagrahita terbagi atas tiga yaitu Anak tunagrahita mampu latih/tunagrahita sedang, Anak tunagrahita mampu latih/tunagrahita sedang dan Anak tunagrahita berat.
4.      Faktor Penyebab Tunagrahita yaitu Prenatal (sebelum lahir), Natal (waktu lahir) dan Pos natal (sesudah lahir).
5.      Cara membimbing anak Tunagrahita dengan kasih sayang, keperagaan, habilitasi dan rehabilitasi dan juga pendidikan serta layanan khusus. 
B. Saran
Demikianlah makalah yang kami buat dan kami sadar karena keterbatasan pada diri kami, maka kami mengharapkan kritik dan saran dari pada pembaca  demi kesempurnaan makalah ini atas segala saran yang diberikan kepada kami selaku penyusun, mengucapkan terima kasih.



DAFTAR PUSTAKA
Granida, Dadang.2015. Pengantar Pendidikan Inklusif . Bandung: PT. Refika Aditama.
Pertiwi,Ajeng.2015.Makalahpendidikananakberkebutuhan,ajengpertiwi.blogspot.co.id./2015/05/makalah-pendidikan-anak-berkebutuhan-S2.html, diakses 19 November 2016.
Prita,Dhian.2014.Bimbinganbagianaktunagrahita,dhianprita.blogspot.co.id/2014/12/bimbingan-bagi-anak-tunagrahita.html, diakses 19 November 2016.








.